NILAI DASAR PERGERAKAN; Wajah Islam Rahmatan Lil ‘alamin

Posted: Oktober 20, 2011 in Uncategorized

Awal oktober lalu saya mewakili PMII hadir dalam sebuah diskusi dengan seorang jurnalis senior Australia bernama Greg Sheridan yang berancana membuat sebuah article tentang pandangan aktifis mahasiswa islam terhadap keadaan keberagamaan di indonesia. Saya hadir bersama empat orang mahasiswa UIN lainnya yang mewakili organisasinya masing-masing.

Pada awalnya dia bertanya tentang latar belakang pendidikan saya dan teman-teman lainnya lalu kemudian menayakan mengenai alasan saya dan teman-teman organisasi lain kuliah dikampus UIN ini. Tentu saja empat dari lima peserta diskusi menjawab bahwa semua tidak direncanakan, dan saya adalah salah satu dari mereka. Ya! Saya ada di UIN ini karena keinginan orang tua, atau dalam bahasa sederhana “asal bapak senang”.

Kemudian diskusi dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan serius.

“Why do Islam as a biggest religion in Indonesia nowadays becomes more conservative in case they do violence and troubling other religion?

Saya yang tidak senang dengan pertanyaan Greg tersebut dan kebetulan duduk paling dekat dengannya pun diberi kesempatan menjawab lebih dulu. Dengan bahasa inggris yang apa adanya saya menjawab:

“I totally disagree with your statement! We are Indonesian Muslims are millions, the one who care about global warming is a Muslim, who cares about erasing poverty is a Muslim, even who cares about migrant labor is a Muslim too. So how could you say that we are conservative?”

Greg terdiam dan kemudian menanyakan tentang pandangan PMII terhadap penyerangan terhadap ahmadiyah, dan pelarangan pendirian gereja di beberapa wilayah indonesia.

“The Indonesians moslem students movement are at the frontline of antiviolence movement against ahmadiyah”. We cannot accept if you generalize that Islam in Indonesia is conservative just because few Islamic organizations act violence behavior.

Pasca diskusi dengan Greg tersebut membuat saya berfikir apakah pandangan orang luar terhadap Islam di Indonesia sudah sampai pada titik terendah sampai menganggap islam indonesia adalah agama konservatif yang memperbolehkan kekerasan dan perlakuan tidak adil terhadap manusia lainnya.

saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pandangan mereka, karena memang media lokal maupun internasional lebih tertarik pada penayangan konflik dari pada berita yang adem-adem saja. Seperti kopi, lebih enak disajikan panas dari pada adem.

Islam adalah agama yang sangat ramah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tabrani dan Darulquthni rasulullah bersabda:

“orang beriman itu bersikap ramah, dam tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”.              (HR. Tabrani dan Darulquthni)

Dari hadits diatas bisa kita simpulkan bahwa keramahan adalah bagian dari pada iman. Dan tidak disebut beriman apabila dia melakukan kebalikan dari keramahan. Jadi kekerasan tidak pernah bisa diterima oleh ajaran islam manapun karena jelas bertentangan dengan hadits dan ayat-ayat al-qur’an.

Islam sebagaimana yang di sebutkan oleh budayawan Emha Ainun Najib haruslah bisa menjadi public religion atau agama publik yang memiliki nilai-nilai kebaikan, keramahan dan persaudaraan sebagai ajaran universal.

PMII sebagai sebuah organisasi pun mengilhami nilai-nilai keislaman universal tersebut dan mencatatkannya dalam sebuah bentuk ajaran yang disebut “nilai dasar pergerakan (NDP)”.

NDP merupakan nilai-nilai yang menjadi sumber inspirasi dalam setiap gerakan seorang kader PMII. NDP adalah sebuah peta yang mengarahkan kader PMII menuju tujuannya. Menjadi ulul albab.

Nilai-nilai tersebut yang pertama adalah nilai-nilai pada hubungan vertikal manusia dengan tuhannya;hablu min allah. Allah berfirman; “Dan kami tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku (menyembahku)”.

Dimata allah sebaik-baik manusia adalah yang paling bertaqwa kepadanya. Seorang kader PMII haruslah menjadi kader yang senantiasa berada dibawah rahmat Allah pada setiap geraknya, meyakini bahwa dalam setiap gerak ada campur tangan Allah.

Nilai yang kedua adalah nilai-nilai yang terkandung pada hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lainnya; hablu min an-naas. Nilai-nilai ini mencakup didalamnya pemahaman akan pentingnya toleransi, keadilan, keseimbangan dan moderasi dalam setiap sendi-sendi kehidupan.

Dalam sebuah hadits jelas nabi muhammad menerangkan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan ini sangat penting. Nabi Muhammad bersabda; “sungguh aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudara muslim lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf dimasjid ini selama satu bulan penuh”.

Perilaku nabi ini jelas sekali menunjukkan rasa kemanusiaan yang dalam, membantu manusia lainnya lebih baik daripada sebuah amalan sunnah seperti I’tikaf. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad saat menjadi khalifah di madinah menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan dengan menjamin kebebasan beribadah, perlindungan terhadap kaum lemah, perlindungan terhadap penganut agama lain dan kebebasan berpendapat. Jadi jelaslah bagaimana sosok seorang muslim merupakan seorang yang berperikemanusiaan.

Setiap hal baik yang kita lakukan kepada manusia lain akan dimaknai sebagai sebuah ibadah sosial yang juga mendekatkan diri kita kepada tuhan semesta alam.

Dan yang terakhir adalah nilai-nilai pada hubungan manusia dengan alam hablu min al-alam. Isu global warming bak menjadi sebuah bunyi gong yang menyadarkan manusia dari kelalaian untuk melestarikan dunia tempat tinggalnya. Allah SWT berfirman; “telah tampaklah kerusakan di daratan dan lautan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kejalan yang benar.

Kebaikan kepada alam sering sekali dianggap sebagai ibadah sub-ordinat atau bukan ibadah yang utama. Atau lebih parah lagi dianggap sebagai urusan duniawi yang tidak ada sangkut pautnya dengan pahala dan dosa.

Dalam sebuah riwayat Nabi muhammad memasuki sebuah kebun milik sahabat anshar. Tiba-tiba beliau melihat seekor unta, beliau mendekati unta tersebut dan mengelus bagian pusat sampai punuknya kemudian beliau berseru: siapa pemilik unta ini? Milik siapa ini? Kemudian datanglah seorang pemuda anshar lalu berkata “wahai rasul, unta tersebut milik saya. Lalu rasulullah bersabda; “apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini, yang telah diberikan kepadamu oleh Allah? Dia telah melapor kepadaku bahwa engkau telah membiarkannya lapar dan membebaninya pekerjaan-pekerjaan yang berat.”

Menjaga binatang, tumbuhan, tanah, air dan alam raya ini adalah perintah Allah SWT. Tuhan semesta alam.

Ternyata, tidak semua ketidaksengajaan berakibat buruk. Ketidaksengajaan saya masuk kuliah di UIN syarif hidayatullah jakarta ini membawa saya pada banyak pengalaman baru. Mengetahui geliat pengetahuan akademik di kampus, bertemu dunia aktifisme yang tanpa saya sadari memaksa saya jatuh cinta pada pengetahuan sosial dan pada saat yang sama juga melakukan aksi-aksi sosial kemanusiaan dan yang paling utama tentu saja membawa saya pada pemahaman mendalamakan hakikat diri sebagai makhluk tuhan.

Yang paling bagus memang bila semua orang berbuat benar tanpa cacat. Tapi itu sulit. Sifat lupa, sifat khilaf, sifat keliru, sudah menjadi pakaian. Ini gendangnya lagu hidup. memahami kesalahan langkah meluruskannya, lebih penting daripada melihat kesalahan itu barang mustahil. Kesalahan bukan mustahil, seperti halnya kebenaran mutlak manusia barang mustahil. H. Mahbub djunaidi

Selamat ber-PMII.

Disampaikan pada MAPABA PMII Psikologi Cabang Ciputat.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s