MENGEMBALIKAN FUNGSI KERATON CIREBON

Posted: Januari 2, 2009 in Uncategorized

MENGEMBALIKAN FUNGSI KERATON CIREBON

SEBAGAI PUSAT PERADABAN

images1

Sabtu 27 Desember 2008, tepat pada peringatan hari jadi kota cirebon dilaksanakan sebuah acara besar bertemakan KIRAB HARI JADI KOTA CIREBON ke 639. Acara tersebut berlangsung cukup meriah. dihadiri oleh ribuan warga masyarakat cirebon dan sekitarnya yang datang untuk melihat kirab berupa iring-iringan keluarga keraton beserta para prajurit kerajaan. Pada acara tersebut terlihat iring-iringan dari tiga keraton di Cirebon yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman Dan Keraton Kacirebonan. Keraton-keraton tersebut adalah tiga keraton yang ada di kota cirebon dan merupakan bukti kuat sejarah kota cirebon.

Sebelum datangnya Islam dan terbentuknya keraton di Cirebon, wilayah cirebon dan sekitarnya masih merupakan daerah kekuasaan kerajaan padjadjaran dibawah pimpinan Prabu Siliwangi. Putra mahkota kerajaan pajajaran saat itu adalah pangeran cakrabuana yang merupakan anak sulung dari prabu siliwangi. Namun karena pangeran cakrabuana adalah pemeluk agama islam sementara kerajaan Pajajaran adalah kerajaan Hindu Budha ia tidak mendapatkan haknya sebagai pengganti ayahnya. Ia lalu pergi ke pesisir utara pulau Jawa dan mendirikan keraton sebagai pusat pemerintahan di Cirebon. Tujuan pendiriannya selain sebagai pusat pemerintahan juga merupakan pusat dakwah Islam. Kemudian Pada tahun 1479 M, setelah meninggalnya pangeran Cakrabuana posisinya digantikan oleh putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir yaitu Syaikh Syarif Hidayatullah atu dikenal dengan Sunan Gunung jati. Beliau merupkan salah satu dari Wali Sanga, penyebar agama islam di Jawa. Saat itu islam baru berkembang pesat ditanah jawa. Sebagai mana yang disebutkan para sejarawan tentang masuknya islam di Indonesia, islam baru berkembang pesat pada era Wali Sanga. Sebelumnya, selama lebih dari 900 tahun sejak Islam diturunkan kepada nabi muhammad sampai abad ke 14 Islam tidak dapat diterima secara langsung oleh masyarakat Indonesia yang saat itu masih beragamakan Kapitayan. Baru pada era wali sanga, dengan membawa ajaran Islam yang berasal dari negeri Campa (perbatasan thailand dan Vietnam) Islam bisa berkembang pesat dan menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Ajaran agama Islam yang dibawa wali sanga ini memiliki pemahaman bahwa islam adalah agama yang transformatif yang bisa ber-akulturasi dengan budaya masyarakat diwilayah penyebarannya masing-masing. Jadi wali sanga tidak secara mentah-mentah membawa agama dan hal-hal yang berkaitan dengan syariat islam langsung dari negeri asalnya. Akidah, tauhid serta syariat-syariat yang bersifat wajib lah yang dibawa oleh para wali sanga. Sementara syariat-syariat lainnya bertranformasi dan berkembang sesuai dengan ke-khasan budaya masyarakat di wilayah penyebarannya masing-masing.

Sebagai pusat dakwah islam, keraton memegang peranan yang sangat vital. Ini jelas terlihat dari sejarah yang menyebutkan bahwa syaikh syarif hidyatullah selain berperan sebagai seorang sultan, beliau juga adalah seorang hakim atau Qadi. Dalam pengambilan keputusannya, beliau selalu berpegang pada ajaran-ajaran akidah Islam. Beliau juga meninggalkan sebuah pesan moral bagi para penerusnya yaitu “ingsun titip tajug lan fakir miskin” yang artinya aku titipkan padamu masjid/mushalla dan fakir miskin. Pesan yang disampaikan founding father keraton inilah yang harusnya dijadikan sebuah pegangan bagi para penerusnya para pemimpin keraton. Keraton harus mampu menjadi ujung tombak dan juga pusat dakwah ajaran Islam di wilayah kekuasaannya.

Pada tahun 1600-an ada permasalahan ditubuh keraton Cirebon yang disebabkan faktor eksternal. Sigkatnya keraton cirebon terpecah menjadi dua yaitu keraton kasepuhan dan keraton kanoman. Pada zaman penjajahan belanda tepatnya tahun 1800-an melalui politik devide at impera atau politik adu domba, Belanda mampu memecah belah keraton. Mereka mengacak-acak suasana politik keraton Kanoman dengan cara menawarkan salah satu putra dari raja iming-iming harta dan kekuasaan hingga akhirnya ia memisahkan diri dari keraton dan membuat membuat kerajaan baru dengan nama Kacirebonan. Hal itulah yang menjadi penyebab hingga akhirnya kekuasaan dan wibawa keraton lambat laun memudar dan tidak berkembang. Sampai pada titik keraton kehilangan jati diri dan lupa akan maksud dan tujuan pendiriannya.

Keraton saat ini tidak lebih hanya menjadi sebuah warisan sejarah. Setelah berdirinya negara Indonesia fungsi pemerintahan dialihkan kepada Bupati ataupun Walikota Cirebon. Fungsi utama keraton telah hampir hanya menjadi kenangan. kini, yang tersisa dari keraton cirebon adalah sisa-sisa kejayaan berupa gedung-gedung yang merupakan cagar budaya yang bisa dikunjungi turis lokal maupun internasional.

Sebenarnya sampai saat ini masyarakat Cirebon masih menghormati dan memberikan harapan besar kepada keraton Cirebon. Harapan besar agar keraton Cirebon mampu kembali menjadi pusat peradaban dan tidak hanya menjadi cagar budaya. Kiata tidak bisa lagi memperbincangkan mengenai fungsi keraton sebagai pusat pemerintahan. Tapi setidaknya fungsi utamanya sebagai pusat dakwah Islam dan pelestarian tradisi keislaman dan ke-cirebonan bisa dihidupkan kembali. Hubungan keraton sebagai pusat dan pesantren-pesantren sebagai bagian dari upaya dakwah islam juga harus dikuatkan kembali.

Dengan keinginan kuat dan upaya maksimal dari seluruh elemen keraton dan warga Cirebon, saya yakin kedepannya kita tidak hanya menikmati keraton sebagai warisan sejarah dalam kirab-kirab maupun acara-acara tradisi lainnya. tapi kita juga akan menikmati kehidupan keberagamaan yang lebih kuat lagi di Cirebon.

Komentar
  1. nyimas g mengatakan:

    Kalo boleh mengkajinya pada aspek kebudayaan. Koentjaraningrat menyebutkan sedikitnya tiga wujud kebudayaan itu sendiri, antara lain: wujud idiil (ideologi) yang akan membentuk norma, dan nilai dalam masyarakat, wujud perilaku/pola sikap yang terbentuk, wujud artifak atau materi kebendaan yang biasanya mereka jadikan alat. Akan tetapi, tiga wujud kebudayaan ini semuanya saling berkaitan erat. kebudayaan ideel dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada perbuatan dan karya manusia. Baik pikiran2, ide, ataupun perbuatan dan karya manusia menghasilkan benda kebudayaan fisiknya. Sebaliknya juga kebudayaan fisik ini membentuk lingkungan hidup tertentu yang lama-lama menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya, jadi bisa mempengaruhi pola perbuatannya, juga cara berpikirnya. Halah… puyeng neh ma teorinya. Tapi itu cuma tambahan wawasan tentang kebudayaan diliat dari kajian antropologis dan sosiologisnya.
    Nah, Keraton Cirebon, baik Kanoman maupun Kasepuhan, masuk dalam wujud kebudayaan yang terakhir, kebudayaan materi/fisik. Pernah berpikir nggak sih, kenapa kok bentuk atapnya begitu, tiangnya begini, kenapa harus pake bata merah untuk gapuranya. Kenapa gaya arsitekturnya beda sama keraton yang ada di Solo, Jogja, Banten, atau Surakarta, padahal namanya sama-sama keraton, tempat tinggal raja zaman baheula. Pasti simbol2 itu punya nilai filososfi tersendiri. Itu juga yang mau nyimas tanyain neh… SEcara nyimas orang Cirebon tapi kok nggak tahu juga. Plus mau ngebuktiin teori si Koentjaraningrat yang menyebutkan bahwa tiga wujud kebudayaan saling berkait erat. Ini juga pasti berlaku pada nilai-nilai/norms (yang merupakan wujud kebudayaan dalam tataran idiil) yang dulu diyakini oleh masyarakat Cirebon, khususnya lingkungan sekitar keraton, pun terealisasikan dalam bentuk perilaku berpola, yang juga dilukiskan oleh mereka dalam karya fisik berwujud keraton ini. Gitu maksudnya…
    Tapi bener deh, pas jalan2 ke Cirebon sekarang emang enakan mampir ke Keraton (daripada ke Grage, hehehe..). Bukan cuma masalah finansial khuy, kita emang jadi tahu sejarah. Kan katanya, bangsa yang besar, bangsa yang mengenal–pun memahami dan menghargai–sejarahnya, bukan?
    Oya, nggak setuju juga kalo keraton cuma disebut sebagai warisan sejarah. Warisan? Plis deh, dalam asumsiku (mungkin terlalu dangkal), warisan itu cenderung merujuk pada pemaknaan harta yang habis dibagi/digunakan –sebelum, biasanya (cuma biasanya ya) diperebutkan. Mungkin nyimas lebih seneng nyebut keraton itu sebagai salah satu media pembelajaran sejarah yang bila kita fungsikan kembali akan mungkin hadir generasi lokal yang tetap berpikiran global (halah! jargonnya maksa betul… ^_^)
    Btw, kalo emang keraton mau jadi pusat peradaban lagi, atau sekiranya bisa jadi pusat ajaran Islam di Cirebon, mungkin kesadaran orang keratonnnya dulu yang kudu dibangun agar menjadikan tempat tinggal mereka disesaki banyak orang yang bukan cuma “ngalap berkah” semata. Tapi memang masyarakat dapat pencerahan dari apa yang mereka lakukan, seperti dulu zamannya Sunan Gunung Djatie tentunya. Membagi ilmu, isalnya. Waktu yang saya lihat, yang ngisi kajian di sebuah taklim itu bukan orang Keratonnya, tapi abdi dalemnya. Moga itu hanya kebetulan doang. Karena kalau itu sebenernya udah lama terjadi, kayaknya kok ironis banget ya? Hukum dimana ada gula di situ ada semut kayaknya bisa sangat terjadi di sini. Pun upaya pemerintah dalam mempercantik Keraton sebagai cagarbudaya juga lagi-lagi kudu dituntut terus nih. Masa, banyak banget sampah di pelataran halaman Keraton sih? Iya sih buang sampah di tempatnya itu kudu jadi kewajiban kita semua. Tapi fasilitasnya juga kudu didukung dong. Dari ujung ke ujung, tong sapah di keraton cuma atu!Hiks,,, jadi beneran sedih deh ngeliatnya. Masa mau terus2an bawa sampah yang menumpuk di tas sepanjang jalan. emang sih itu sampah bekasanku. Tapi kan jadi nggak indah isi tasku.

    • ahmadromzie mengatakan:

      nul.. keraton sekarang kenapa ane sebut dgn “warisan” sejarah, yang namanya warisan tu ga semuanya habis, ga semuanya penting, ga semuanya harus diperebutkan tapi harus dipertanggungjawabkan. tapi warisan KERATON dengan capslok dan bold ini adalah sebuah warisan yang besar! warisan yang belum selesai pembagiannya. emang ada yang lebih cocok untuk ngegambarin keraton saat ini. SISA SEJARAH. haha.. ane ga lagi bicara keraton sebagai kebudayaan atau yang inul sebut di point ke tiga ttg artefak (Sebaliknya juga kebudayaan fisik ini membentuk lingkungan hidup tertentu yang lama-lama menjauhkan manusia dari lingkungan alamiahnya, jadi bisa mempengaruhi pola perbuatannya, juga cara berpikirnya). itu mah gw juga puyeng mikirin teorinya. yang ane jauh lebih cermati adalah fungsi keraton cirebon yang harusnya bisa menjadi “center”. buat ane, keraton cirebon tu beda banget! dia bener-bener dibangun untuk dakwah islam! bukan cuma jadi pusat pemerintahan aja. liat aja tu pendiri pertamanya yang lebih memilih untuk pergi dari padjajaran. buat islam nul! ane ga terima “imas” the cerbonesse dateng ke cirebon cuma mau liat-liat keraton yang imas samain dengan gerage (tapi ga pake ongkos..heee). imas lebih mikirin tentang keraton yang banyak sampah. HEI.. liat fungsi subtansinya dong. (sori agak semangat emang kalo mikirin ini). inul juga tau kan (mudah2an) qt ni juga anggota kerabat keraton lho… eyang kita pergi dari keraton yang udah terlalu jauh di-intervensi asing. trus bikin pesantren. lo, gw, dan sodara-sodara kita semuanya punya tanggung jawab besar ttg itu. bukan hanya yang tinggal di istana aja..hayo lo!!
      solusi: gaya banget ya…
      pesantren itu keraton-keraton kecil yang merupakan sempalan-sempalan keraton cirebon. nah klo gitu…. keraton harus bisa ngerangkul lagi sodara-sodaranya yang ada si pesantren-pesantren dan jadiin keraton sebagai pusatnya…

  2. nyimas gandasasari mengatakan:

    Nah, sebenernya kajian nyimas yang kemarin nyimas tulis sebelumnya tuh mau mensisntesiskan, antara KERATON dan nilai yang terkandung di dalamnya. Karena setiap kebudayaan fisik ini pastilah terkait dengan nilai-nilai kebudayaan lainnya. Keraton, misalnya, dengan bentuk segala rupa itu, pasti mengandung nilai-nilai masyarakat cirebon secara idiil, maupun perilaku berpola. Bila,
    cap warisan itu pun Khuya Boji labelkan untuk Keraton Cirebon, oke, nggak masalah. Tapi ada nggak sih sisa nilai yang sebenanrnya terkandung dalam keraton itu sendiri dan puing-puing kejayaan yang dulu sempat mampir di kota wali ini dan pula masih bercokol dalam masyarakat cirebon pada saat ini?
    Pertanyaannya kemudian, bila dulu Keraton telah menjadi menjadi pusat peradaban, khususnya di Cirebon, kenapa kini justru sebaliknya lah yang kita dapatkan: sampah dimana-mana, sepi dari ributnya pengajian masyarakat, justru ramai dengan praktik syirik. Simpelnya gini, kalo emang dulu keraton cirebon buat dakwah, kenapa sekarang jauhhhhhhh banget fungsinya? Kalau dulu keraton Cirebon itu berkordinasi dengan pesantren-pesantren dalam membangun peradaban di Cirebon, kenapa sekarang justru jauhhhhhhhhh juga kenyataannya. yang ada, perbedaan-perbedaan yang muncul. Bagus perbedaan itu memang benar-benar menjelma sebagai rahmat, nyatanya satu pesantren dengan pesantren yang lainnya kerapkali berbeda dalam mengemban visi dan misi dakwah di masyarakat. Ok, visi dan misinya sama, mungkin berbeda wasilahnya, caranya. Tapi tetap saja, perbedaan ini ujung-ujungnya memperuncing perbedaan yang berakhir pada konflik, keraton yang seharusnya jadi “center” (syukursyukur pemersatu) pun nggak ada tajinya kan? Cuma cagar budaya yang ya.. cuma bisa kita kunjungi sesekali bila tak ada uang misalnya (kayak kebiasaan daku yang tak dikau sependapati). Nah, sebenarnya “something” apa yang membuat hal ini terjadi. saya kira, kalo kita udah nemuin “biangkerok” ini, akan mudah (meski selalu dengan tantangan) kita menemukan solusi apalagi upaya mengembalikan fungsi Keraton yang sudah “mati suti”.
    Sebenarnya saya juga nggak mau menjadikan Keraton sekadar satu objek wisata yang bisa dikunjungi. Kesannya hanya untuk tujuan hedon sesaat ya? Setuju sih. Tapi saya nggak mau naif dengan kenyataan bahwa memang itulah fungsi keraton yang sekarang kita lihat. Kalau khuya boji bilang dulu keraton dibangun dengan fungsi substansial yang “wah”, itu karena sense of belonging masyarakat sekitar pada warisan nenek moyang mereka masih sangat tinggi. SEkarang? jangan berharap terjadi internalisasi nilai-nilai Islam yang menjadi substansi esensial mengapa Keraton Cirebon berdiri pada masyarakat cirebon sendiri. Merasa memiliki pun kayaknya udah nggak nganggep. Kenapa? kalau rasa ini aja udah tumpul, gimana mereka mau melakukan upaya menjaga, melestarikan, apalagi merevitalisasi fungsi yang ada! Nonsense!

    Tapi, jadi punya ide, khuy. Hm, gimana kalo kita bikin riset kecil-kecilan tentang minat masyarakat Cirebon, khususnya, pada keraton ini. Artinya, kenapa sih mereka memutuskan untuk ke Keraton (dari sini kita pasti punya gambaran tentang seberapa besar perhatian mereka pada Keraton). Output dari riset ini bisa kita gunakan untuk membuat konsep tentang upaya-upaya mengembalikan fungsi Keraton sebagai pusat dakwah. Terlalu jauh? Nggak juga. Inget, kurikulum sekolah yang dipakai saat ini kan sisitemnya KTSP, kenapa pula nggak kita integralkan eksisitensi keraton dengan pelajaran sejarah yang ada misalnya. Kan prinsip KTSP kayak gitu kan? Nah, syukur2 pula dengan riset yang kecil-kecilan tapi serius ini (Insya Allah kalo dikau mau) kita bisa bikin formula, kita mulainya dari sub anak sekolah dulu yang masih bisa dikondisikan dengan regulasi yang baku, bagaimana memotivasi masyarakat yang kita mulai dari tataran anak sekolah untuk sekadar berkunjung ke Keraton misalnya. Konsepnya kayak kunjungan ke museum? Mungkin. Tapi harus ada something differentnya, Khuy. Ada inovasi yang nggak jadi basi! Kalo nyimas mikirnya kita bikin metode belajar sejarah (kan ada bab-bab tentang penyebaran agama islam tuh) atau dalam muatan lokalnya yang mengasyikkan dengan tamasya ke kota tua cirebon, misalnya. Awalnya saya memang memposisikan keraton untuk tamasya dulu bagi anak sekolah, artinya gini, kita buat pembelajaran atau kunjungan ke keraton ini seasyik mungkin, semenyenangkan mungkin, karena kesan yang menyenangkan itu akan tertanam baik di benak mereka. Akibatnya, mungkin mereka akan kembali berkunjung lagi. Nggak cuma ngunjungin pas ada muludan, atau 10 syuro’ gitu… setelah itu, secara bertahap kita juga bisa memasukkan nilai-nilai lain yang menjadi fungsi Keraton yang sesungguhnya. Koordinasi dengan berbagai pihak (pemerintah kota dan daerah, pihak sekeraton, dan pihak sekolah) lagi-lagi hal yang bakal menjadi hambatan sekaligus kunci suksesnya. Saya yakin, manusia dan kebudayaannya nggak bisa lepas. Karena adanya kebudayaan karena adanya manusia, begitu sebaliknya. Ketika Keraton bukan sekadar bangunan sisa kejayaan Islam yang pernah ada dan begitu mewarnai kehidupan beragama masyarakat Cirebon, ketika itu pula kita akan melihat bagaimana masyarakat selalu erat dengan nilai-nilai yang mereka yakini dan pernah ada di tengah mereka.

  3. nyimas gandasasari mengatakan:

    Btw, dikau punya nggak buku-buku literasi tentang babad tanah Cirebon? Kalo punya, entah itu dalam bentuk manuskrip, data kerasnya (hard file) atau soft filenya, nyimas pinjam dunx… Ada satu misi lagi yang kudu daku jalanin terkait orang cirebon (halah, apa sih?) Pokoknya pinjem. Nanti, nyimas yang ambil sendiri deh… Plis..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s