Awal oktober lalu saya mewakili PMII hadir dalam sebuah diskusi dengan seorang jurnalis senior Australia bernama Greg Sheridan yang berancana membuat sebuah article tentang pandangan aktifis mahasiswa islam terhadap keadaan keberagamaan di indonesia. Saya hadir bersama empat orang mahasiswa UIN lainnya yang mewakili organisasinya masing-masing.

Pada awalnya dia bertanya tentang latar belakang pendidikan saya dan teman-teman lainnya lalu kemudian menayakan mengenai alasan saya dan teman-teman organisasi lain kuliah dikampus UIN ini. Tentu saja empat dari lima peserta diskusi menjawab bahwa semua tidak direncanakan, dan saya adalah salah satu dari mereka. Ya! Saya ada di UIN ini karena keinginan orang tua, atau dalam bahasa sederhana “asal bapak senang”.

Kemudian diskusi dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan serius.

“Why do Islam as a biggest religion in Indonesia nowadays becomes more conservative in case they do violence and troubling other religion?

Saya yang tidak senang dengan pertanyaan Greg tersebut dan kebetulan duduk paling dekat dengannya pun diberi kesempatan menjawab lebih dulu. Dengan bahasa inggris yang apa adanya saya menjawab:

“I totally disagree with your statement! We are Indonesian Muslims are millions, the one who care about global warming is a Muslim, who cares about erasing poverty is a Muslim, even who cares about migrant labor is a Muslim too. So how could you say that we are conservative?”

Greg terdiam dan kemudian menanyakan tentang pandangan PMII terhadap penyerangan terhadap ahmadiyah, dan pelarangan pendirian gereja di beberapa wilayah indonesia.

“The Indonesians moslem students movement are at the frontline of antiviolence movement against ahmadiyah”. We cannot accept if you generalize that Islam in Indonesia is conservative just because few Islamic organizations act violence behavior.

Pasca diskusi dengan Greg tersebut membuat saya berfikir apakah pandangan orang luar terhadap Islam di Indonesia sudah sampai pada titik terendah sampai menganggap islam indonesia adalah agama konservatif yang memperbolehkan kekerasan dan perlakuan tidak adil terhadap manusia lainnya.

saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pandangan mereka, karena memang media lokal maupun internasional lebih tertarik pada penayangan konflik dari pada berita yang adem-adem saja. Seperti kopi, lebih enak disajikan panas dari pada adem.

Islam adalah agama yang sangat ramah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tabrani dan Darulquthni rasulullah bersabda:

“orang beriman itu bersikap ramah, dam tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya”.              (HR. Tabrani dan Darulquthni)

Dari hadits diatas bisa kita simpulkan bahwa keramahan adalah bagian dari pada iman. Dan tidak disebut beriman apabila dia melakukan kebalikan dari keramahan. Jadi kekerasan tidak pernah bisa diterima oleh ajaran islam manapun karena jelas bertentangan dengan hadits dan ayat-ayat al-qur’an.

Islam sebagaimana yang di sebutkan oleh budayawan Emha Ainun Najib haruslah bisa menjadi public religion atau agama publik yang memiliki nilai-nilai kebaikan, keramahan dan persaudaraan sebagai ajaran universal.

PMII sebagai sebuah organisasi pun mengilhami nilai-nilai keislaman universal tersebut dan mencatatkannya dalam sebuah bentuk ajaran yang disebut “nilai dasar pergerakan (NDP)”.

NDP merupakan nilai-nilai yang menjadi sumber inspirasi dalam setiap gerakan seorang kader PMII. NDP adalah sebuah peta yang mengarahkan kader PMII menuju tujuannya. Menjadi ulul albab.

Nilai-nilai tersebut yang pertama adalah nilai-nilai pada hubungan vertikal manusia dengan tuhannya;hablu min allah. Allah berfirman; “Dan kami tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaku (menyembahku)”.

Dimata allah sebaik-baik manusia adalah yang paling bertaqwa kepadanya. Seorang kader PMII haruslah menjadi kader yang senantiasa berada dibawah rahmat Allah pada setiap geraknya, meyakini bahwa dalam setiap gerak ada campur tangan Allah.

Nilai yang kedua adalah nilai-nilai yang terkandung pada hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lainnya; hablu min an-naas. Nilai-nilai ini mencakup didalamnya pemahaman akan pentingnya toleransi, keadilan, keseimbangan dan moderasi dalam setiap sendi-sendi kehidupan.

Dalam sebuah hadits jelas nabi muhammad menerangkan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan ini sangat penting. Nabi Muhammad bersabda; “sungguh aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudara muslim lebih aku senangi daripada aku beri’tikaf dimasjid ini selama satu bulan penuh”.

Perilaku nabi ini jelas sekali menunjukkan rasa kemanusiaan yang dalam, membantu manusia lainnya lebih baik daripada sebuah amalan sunnah seperti I’tikaf. Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad saat menjadi khalifah di madinah menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan dengan menjamin kebebasan beribadah, perlindungan terhadap kaum lemah, perlindungan terhadap penganut agama lain dan kebebasan berpendapat. Jadi jelaslah bagaimana sosok seorang muslim merupakan seorang yang berperikemanusiaan.

Setiap hal baik yang kita lakukan kepada manusia lain akan dimaknai sebagai sebuah ibadah sosial yang juga mendekatkan diri kita kepada tuhan semesta alam.

Dan yang terakhir adalah nilai-nilai pada hubungan manusia dengan alam hablu min al-alam. Isu global warming bak menjadi sebuah bunyi gong yang menyadarkan manusia dari kelalaian untuk melestarikan dunia tempat tinggalnya. Allah SWT berfirman; “telah tampaklah kerusakan di daratan dan lautan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kejalan yang benar.

Kebaikan kepada alam sering sekali dianggap sebagai ibadah sub-ordinat atau bukan ibadah yang utama. Atau lebih parah lagi dianggap sebagai urusan duniawi yang tidak ada sangkut pautnya dengan pahala dan dosa.

Dalam sebuah riwayat Nabi muhammad memasuki sebuah kebun milik sahabat anshar. Tiba-tiba beliau melihat seekor unta, beliau mendekati unta tersebut dan mengelus bagian pusat sampai punuknya kemudian beliau berseru: siapa pemilik unta ini? Milik siapa ini? Kemudian datanglah seorang pemuda anshar lalu berkata “wahai rasul, unta tersebut milik saya. Lalu rasulullah bersabda; “apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini, yang telah diberikan kepadamu oleh Allah? Dia telah melapor kepadaku bahwa engkau telah membiarkannya lapar dan membebaninya pekerjaan-pekerjaan yang berat.”

Menjaga binatang, tumbuhan, tanah, air dan alam raya ini adalah perintah Allah SWT. Tuhan semesta alam.

Ternyata, tidak semua ketidaksengajaan berakibat buruk. Ketidaksengajaan saya masuk kuliah di UIN syarif hidayatullah jakarta ini membawa saya pada banyak pengalaman baru. Mengetahui geliat pengetahuan akademik di kampus, bertemu dunia aktifisme yang tanpa saya sadari memaksa saya jatuh cinta pada pengetahuan sosial dan pada saat yang sama juga melakukan aksi-aksi sosial kemanusiaan dan yang paling utama tentu saja membawa saya pada pemahaman mendalamakan hakikat diri sebagai makhluk tuhan.

Yang paling bagus memang bila semua orang berbuat benar tanpa cacat. Tapi itu sulit. Sifat lupa, sifat khilaf, sifat keliru, sudah menjadi pakaian. Ini gendangnya lagu hidup. memahami kesalahan langkah meluruskannya, lebih penting daripada melihat kesalahan itu barang mustahil. Kesalahan bukan mustahil, seperti halnya kebenaran mutlak manusia barang mustahil. H. Mahbub djunaidi

Selamat ber-PMII.

Disampaikan pada MAPABA PMII Psikologi Cabang Ciputat.

Tepat di jl. sorowajan baru no. 11 banguntapan bantul, Yogyakarta, sebuah tempat dimana politik, budaya, agama, dan kajian akademik tidak hanya menjadi konsumsi professional namun juga menjadi embun di awal hari, sengat mentari di siang bolong dan cahaya bulan sebelum tidur.

Malam itu, saat pertama kali saya datang ke blandongan sebuah pemandangan yang tidak biasa saya lihat di Jakarta tampak didepan mata, sekumpulan mahasiswa yang dari bajunya pasti adalah pecinta alam sedang berbincang hangat tentang merapi. di sudut lain ada sepasang muda yang dari senyumannya seperti baru saja menyatakan ikrar kebersamaan mereka, dan dari tempat saya berdiri seorang teman melambai dan mengajak saya bergabung bersama mereka.

Duduk tersenyum, dan terlibat perbincangan hebat. Dan di meja ini tentang masa depan keraton jogja.

Di sela perbincangan saya memesan kopi manis khas blandongan -kopi asli nggresik kata teman saya. Sekitar sepuluh menit kopi pesanan saya pun tiba, ya cukup lama karena saat itu blandongan sedang sangat penuh. Padahal saat itu tengah minggu.

Seruput, seperti dalam sebuah film fiksi, kopi itu masuk kedalam tenggorokan lalu kemudian terjun bebas ke lambung dan menjalar melalui pembuluh darah ke syaraf-syaraf hingga sampai ke otak. Otak berdenyut, memerintahkan syaraf untuk mencapai kekuatan kerja maksimal. Tubuh bergejolak,dipaksa berkontemplasi sejenak dan kemudian memuntahkan imajinasi, dan fantasi-fantasi liar dan bebas, pertanyaan dan jawaban muncul pada saat bersamaan. MANTAP! Seruku.

Sesungging senyuman puas muncul dari raut wajah si-teman. Entah apa artinya.

Obrolan pun kami lanjutakan, dari bicara Indonesia episode bung karno hingga bicara wanita dan cara menguasainya.

Kopi manis Ini bukan hanya sekedar segelas kopi, ini adalah kopi hasil manifestasi pemikiran yang mengajak kita untuk sekali lagi meminumnya dan sekali lagi mendapatkan inspirasi.

Bukankah hasil penelitian telah membuktikan bahwa air yang di perlakukan degan baik akan menjadi baik pula kadarnya. Maka kopi yang diracik dengan kekuatan kata-kata dan pikiran tentu akan menjadi sebuah kopi yang nikmat, dan mencerdaskan.

Obrolan pun berlanjut hingga pada hampir tengah malam lampu dimatikan oleh sang pengelola. Tanda bahwa esok harus kembali lagi.

PERNYATAAN SIKAP

Posted: Januari 4, 2009 in Uncategorized

PENDIDIKAN, adalah tulang punggung kemajuan bangsa. Dalam pembukaan UUD 1945, tujuan dasar dibentuknya sebuah negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsanya. usaha ini tidak mungkin dapat kita peroleh bersama tanpa adanya pendidikan yang baik untuk rakyat indonesia.

Sebuah kenyataan pahit lagi-lagi harus kita hadapi, ditengah himpitan ekonomi yang sedang melanda rakyat dan mahalnya biaya pendidikan yang dibebankan kepada rakyat pemerintah malah mengeluarkan sebuah Undang-Undang baru. Yah! UU BADAN HUKUM PENDIDIKAN (BHP) sebuah UU baru yang sangat menyengsarakan rakyat dimana pendidikan dan lembaganya dijadikan sebagai sebuah lembaga otonom yang bebas mengatur keuangannya sendiri. Beberapa pointnya:

Pasal 2

(1) Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat.

(2) Masyarakat sebagaimana dimaksud ayat (1) meliputi:

a. penyelengara atau satuan pendidikan yang didirikan masyarakat;

b. peserta didik, orang tua atau wali peserta didik; dan

c. pihak lain selain yang dimaksud dalam huruf a dan huruf b yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.

Pasal 9

(1) Pendanaan tambahan di atas biaya investasi lahan yang diperlukan untuk pemenuhan rencana pengembanagan satuan atau program pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah menjadi bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal dapat bersumber dari:

a. pemerintah

b. pemerintah daerah

c. masyarakat

d. bantuan pihak asing yang tidak mengikat; dan /atau

sumber lain yang sah

Pendanaan pendidikan yang dibebankan kepada masyarakat menjadi sebuah hal yang sangat tidak dapat kita sebagai pelaku pendidikan diamkan. BHP yang hampir mirip perusahaan komersil ini akan menentukan biaya anggaran penganaan pendidikan dengan semaunya dan kemudian dibebankan kepada rakyat. Apakah ini yang disebut dengan KOMERSIALISASI PENDIDIKAN?? Lalu DIMANA FUNGSI PEMERINTAH SAAT INI?? Mana subsidi pendidikan yang pemerintah janjikan kepada rakyat indonesia??

Wahai mahasiswa Insan Akademis dan pelaku pendidikan! Saat ini bukan lagi waktunya untuk menutup diri dan diam! Mari kita bersama-sama mengawal pemerintahan yang semakin lama semakin gila ini! Menjaga Hak-hak rakyat adalah wajib dan merupakan sebuah bentuk JIHAD!

HARI INI!!!

Kami rakyat indonesia dengan sungguh-sungguh MENOLAK dilegalkannya UU BHP dan meminta kepada pemerintah untuk segera merefisi kembali UU BHP. UNTUK MENCERDASKAN BANGSA

STUDENT GOVERNMENT

Posted: Januari 4, 2009 in Uncategorized

STUDENT GOVERMENT

SISTEM PEMERINTAHAN MAHASISWA

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Mahasiswa tidak dapat dipungkiri merupakan agent of social change dan agent of social control. Sebagai pemuda yang dianggap memiliki tingkat intelektualitas tertinggi dikalangannya, mahasiswa harus bisa menjadi pioner bagi para pemuda dalam menjaga mengawasi dan mengawal perubahan sosial. Pembelajaran atau pendidikan politik merupakan sesuatu yang penting bagi mahasiswa untuk bisa memahami dan berperan aktif dalam society atau kemasyarakatan.

Mahasiswa yang dikenal sebagai agen of social change dan agent of sosial control memiliki peranan yang cukup vital dalam proses pembangunan, baik sifatnya pembangunan fisik maupun pembangunan sosial.

Sebagai Agent of social control, mahasiswa harus bisa mengawal, mengawasi, membenahi, dan menjaga stabilitas masyarakat agar tidak terbawa arus globalisasi yang terlalu deras yang dikhawatirkan membawa kehidupan bermasyarakat menuju permasalahan- permasalahan yang pelik.

Kaitannya sebagai agent of Social change atau perubahan sosial tentunya mengharuskan mahasiswa untuk terus bisa mengabdikan hati fikiran dan tenaganya untuk society atau lazim disebut dengan masyarakat. Mahasiswa dalam hal ini menjadi subject penentu perubahan, membawa perubahan masyarakat menuju lebih baik, merubah masyarakat yang belum tahu apa-apa menjadi tahu, membantu masyarakat yang masih terbelakang untuk bisa berlari atau setidaknya berjalan cepat mengejar kehidupan yang lebih maju.

Merupakan sebuah tugas yang sulit untuk menjaga dan melakukan perubahan-perubahan dalam masyarakat, apabila masyarakat sebagai subject pelaksana tidak kita libatkan dalam perkara ini. Mahasiswa harus bisa mempersiapkan mental masyarakat untuk siap menyongsong apapun yang akan hadir didalamnya. Persiapan yang matang ini tentunya hanya bisa diaksanakan dengan pendidikan-pendidikan yang sifatnya social, atau social education.

Tidak bisa kita pungkiri saat ini, dunia pendidikan di Indonesia, secara garis besar, masih bisa dikatakan sangat primitif. Pendidikan masih berkutat dalam lingkup yang kurang ‘membumi’, yaitu hanya menomorsatukan penyampaian dan penerimaan materi (material-based communication) dan mengabaikan korelasi antara materi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat. Metode pendidikan seperti ini sama sekali tidak efektif karena saat diaplikasikan ternyata materi dan keadaan masyarakat tidak relevan. Model pendidikan yang semestinya kita optimalkan disini adalah model yang berorientasi pada kebutuhan dan dinamika masyarakat (people-based learning activity). Model pendidikan seperti ini sangat urgen mengingat dinamika masyarakat baik dalam bidang sosial, politik, ekonomi dan budaya berkembang dengan sangat cepat. Jika dunia pendidikan tidak berusaha mengimbangi perkembangan tersebut, maka tamatlah riwayat dan peran serta dunia pendidikan dalam mencetak para penerus bangsa.

Universitas Islam Negeri dalam hal ini merupakan sebuah universitas yang benar-benar mengajarkan pada mahasiswanya untuk bisa terjun pada pendidikan kemasyrakatan. Dan tentunya salah satu model pendidikan yang erat dan sangat berhubungan dengan masyarakat adalah political education atau pendidikan politik. Hal ini direalisasikan dengan dibangunnya sistem student government atau pemerintahan mahasiswa dalam kegiatan kemahasiswaan.

Sistem student government merupakan sebuah sistem pemerintahan mahasiswa yang sama halnya dengan republik indonesia menggunakan sistem kepartaian sebagai wadah aspirasi mahasiswa. Setiap partai berhak mengirimkan satu calon ketua dan wakil ketua badan eksekutif, dan juga calon legislatif. Para calon tersebut nantinya akan berkompetisi mencari suara terbanyak baik ditingkatan Universitas, fakultas maupun jurusan. Berbeda dengan sistem senat, yang mana ketua senat dipilih oleh hanya perwakilan mahasiswa, pemilihan ketua dan wakil ketua dalam sistem SG dipilih secara langsung oleh mahasiswa. Tentunya sistem ini adalah sistem yang dianggap paling demokratis hingga saat ini.

STRUKTUR STUDENT GOVERNMENT

sg1

Kongres Mahasiswa Universitas (KMU) merupakan lembaga yang tertinggi dalam struktur kelembagaan SG. Sementara DPMU, UKM dan BEMU memiliki kesetaraan tingkatan dalam struktur kelembagaan tersebut. Tentunya masing-masing memiliki tugas dan wewenang. KMU apabila kita analogikan dalam sebuah negara adalah Majlis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Sementara DPMU adalah DPR. KMU dan DPMU bertugas menjadi legislator. BEMU adalah lembaga eksekutif yang memegang peranan terpenting dalam berjalannya pemerintahan.

Namun yang memang menjadi sebuah kerancuan hingga saat ini adalah bagaimana UKM sebagai unit kegiatan mahasiswa, memiliki tingkatan yang sejajar dengan DPMU dan BEMU. UKM semestinya berada dibawah BEMU. Posisi UKM yang merupakan sebuah unit kegiatan yang berorientasi pada minat dan bakat mahasiswa, idealnya cukup menjadi Lembaga Semi Otonom. Namun di sistem SG UIN UKM merupakan sebuah lembaga yang memiliki bargain position yang cukup besar.

Desember lalu UIN baru saja melangsungkan pesta demokrasi kampus. Yaitu PEMILU RAYA kampus. Dalam pemilu ini ikut ambil bagian lima partai yang masing-masing mengirimkan satu delegasi calon presiden dan wakil presiden. PEMILU berlangsung sangat sukses. Ini ditunjukkan dengan jumlah presentase keikutsertaan mahasiswa yang hampir mencapai 80%.

Kedepannya kita semua berharap bahwa UIN sebagai kampus Islam terbesar di Indonesia mampu menjadi pioner demokrasi di dalam kampus.

Materi ini pernah dipresentasikan dalam MAPABA PMII Fak. Dakwah dan komunikasi

MENGEMBALIKAN FUNGSI KERATON CIREBON

SEBAGAI PUSAT PERADABAN

images1

Sabtu 27 Desember 2008, tepat pada peringatan hari jadi kota cirebon dilaksanakan sebuah acara besar bertemakan KIRAB HARI JADI KOTA CIREBON ke 639. Acara tersebut berlangsung cukup meriah. dihadiri oleh ribuan warga masyarakat cirebon dan sekitarnya yang datang untuk melihat kirab berupa iring-iringan keluarga keraton beserta para prajurit kerajaan. Pada acara tersebut terlihat iring-iringan dari tiga keraton di Cirebon yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman Dan Keraton Kacirebonan. Keraton-keraton tersebut adalah tiga keraton yang ada di kota cirebon dan merupakan bukti kuat sejarah kota cirebon.

Sebelum datangnya Islam dan terbentuknya keraton di Cirebon, wilayah cirebon dan sekitarnya masih merupakan daerah kekuasaan kerajaan padjadjaran dibawah pimpinan Prabu Siliwangi. Putra mahkota kerajaan pajajaran saat itu adalah pangeran cakrabuana yang merupakan anak sulung dari prabu siliwangi. Namun karena pangeran cakrabuana adalah pemeluk agama islam sementara kerajaan Pajajaran adalah kerajaan Hindu Budha ia tidak mendapatkan haknya sebagai pengganti ayahnya. Ia lalu pergi ke pesisir utara pulau Jawa dan mendirikan keraton sebagai pusat pemerintahan di Cirebon. Tujuan pendiriannya selain sebagai pusat pemerintahan juga merupakan pusat dakwah Islam. Kemudian Pada tahun 1479 M, setelah meninggalnya pangeran Cakrabuana posisinya digantikan oleh putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir yaitu Syaikh Syarif Hidayatullah atu dikenal dengan Sunan Gunung jati. Beliau merupkan salah satu dari Wali Sanga, penyebar agama islam di Jawa. Saat itu islam baru berkembang pesat ditanah jawa. Sebagai mana yang disebutkan para sejarawan tentang masuknya islam di Indonesia, islam baru berkembang pesat pada era Wali Sanga. Sebelumnya, selama lebih dari 900 tahun sejak Islam diturunkan kepada nabi muhammad sampai abad ke 14 Islam tidak dapat diterima secara langsung oleh masyarakat Indonesia yang saat itu masih beragamakan Kapitayan. Baru pada era wali sanga, dengan membawa ajaran Islam yang berasal dari negeri Campa (perbatasan thailand dan Vietnam) Islam bisa berkembang pesat dan menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Ajaran agama Islam yang dibawa wali sanga ini memiliki pemahaman bahwa islam adalah agama yang transformatif yang bisa ber-akulturasi dengan budaya masyarakat diwilayah penyebarannya masing-masing. Jadi wali sanga tidak secara mentah-mentah membawa agama dan hal-hal yang berkaitan dengan syariat islam langsung dari negeri asalnya. Akidah, tauhid serta syariat-syariat yang bersifat wajib lah yang dibawa oleh para wali sanga. Sementara syariat-syariat lainnya bertranformasi dan berkembang sesuai dengan ke-khasan budaya masyarakat di wilayah penyebarannya masing-masing.

Sebagai pusat dakwah islam, keraton memegang peranan yang sangat vital. Ini jelas terlihat dari sejarah yang menyebutkan bahwa syaikh syarif hidyatullah selain berperan sebagai seorang sultan, beliau juga adalah seorang hakim atau Qadi. Dalam pengambilan keputusannya, beliau selalu berpegang pada ajaran-ajaran akidah Islam. Beliau juga meninggalkan sebuah pesan moral bagi para penerusnya yaitu “ingsun titip tajug lan fakir miskin” yang artinya aku titipkan padamu masjid/mushalla dan fakir miskin. Pesan yang disampaikan founding father keraton inilah yang harusnya dijadikan sebuah pegangan bagi para penerusnya para pemimpin keraton. Keraton harus mampu menjadi ujung tombak dan juga pusat dakwah ajaran Islam di wilayah kekuasaannya.

Pada tahun 1600-an ada permasalahan ditubuh keraton Cirebon yang disebabkan faktor eksternal. Sigkatnya keraton cirebon terpecah menjadi dua yaitu keraton kasepuhan dan keraton kanoman. Pada zaman penjajahan belanda tepatnya tahun 1800-an melalui politik devide at impera atau politik adu domba, Belanda mampu memecah belah keraton. Mereka mengacak-acak suasana politik keraton Kanoman dengan cara menawarkan salah satu putra dari raja iming-iming harta dan kekuasaan hingga akhirnya ia memisahkan diri dari keraton dan membuat membuat kerajaan baru dengan nama Kacirebonan. Hal itulah yang menjadi penyebab hingga akhirnya kekuasaan dan wibawa keraton lambat laun memudar dan tidak berkembang. Sampai pada titik keraton kehilangan jati diri dan lupa akan maksud dan tujuan pendiriannya.

Keraton saat ini tidak lebih hanya menjadi sebuah warisan sejarah. Setelah berdirinya negara Indonesia fungsi pemerintahan dialihkan kepada Bupati ataupun Walikota Cirebon. Fungsi utama keraton telah hampir hanya menjadi kenangan. kini, yang tersisa dari keraton cirebon adalah sisa-sisa kejayaan berupa gedung-gedung yang merupakan cagar budaya yang bisa dikunjungi turis lokal maupun internasional.

Sebenarnya sampai saat ini masyarakat Cirebon masih menghormati dan memberikan harapan besar kepada keraton Cirebon. Harapan besar agar keraton Cirebon mampu kembali menjadi pusat peradaban dan tidak hanya menjadi cagar budaya. Kiata tidak bisa lagi memperbincangkan mengenai fungsi keraton sebagai pusat pemerintahan. Tapi setidaknya fungsi utamanya sebagai pusat dakwah Islam dan pelestarian tradisi keislaman dan ke-cirebonan bisa dihidupkan kembali. Hubungan keraton sebagai pusat dan pesantren-pesantren sebagai bagian dari upaya dakwah islam juga harus dikuatkan kembali.

Dengan keinginan kuat dan upaya maksimal dari seluruh elemen keraton dan warga Cirebon, saya yakin kedepannya kita tidak hanya menikmati keraton sebagai warisan sejarah dalam kirab-kirab maupun acara-acara tradisi lainnya. tapi kita juga akan menikmati kehidupan keberagamaan yang lebih kuat lagi di Cirebon.

GERAKAN MORAL PMII

Posted: Januari 1, 2009 in Uncategorized

PMII CIPUTAT
Menjadi Ujung Tombak Gerakan Moral Kampus

Friends,
No one denies that HIV-AIDS is the most dangerous Virus in the world.
Together, lets say aloud;
NO FREE SEX
NO DRUGS
For our better future

Tepat pada peringatan hari AIDS se-Dunia 1 Desember 2008 yang lalu PMII cabang Ciputat menggelar sebuah aksi solidaritas penderita AIDS. Aksi tersebut dilakukan mengingat adanya kesalahan pada system social Indonesia dimana rata-rata masyarakat memagari dirinya dengan para penderita aids, tentunya karena ada rasa takut akan terjangki virus tersebut. Padahal apabila kita cermati lebih lanjut rasa takut yang mereka tunjukkan sangatlah berlebihan karena virus HIV-AIDS hanya dapat menular melalui hubungan kelamin dan penggunaan jarum suntik yang berganti-gantian.
Kesalahan perilaku masyarakat ini menjadikan para penderita AIDS merasa terkucilkan dan sulit bergaul dengan masyarakat. Ini jelas merupakan sebuah bentuk dari ketidakadilan social dimana beberapa orang dipagari dan tidak diberikan ruang gerak bebas untuk juga bisa bahagia dan terus berkarya dibumi nusantara ini.
Lebih jauh lagi, aksi tersebut berjalan dengan sangat sukses. Terdiri dari penyampaian orasi, pembagian pita dan bunga mawar sebagai sebuah symbol solidaritas perdamaian, serta pembubuhan tanda tangan, sebagai sebuah tanda bahwa mahasiswa UIN adalah mahasiswa yang sangat peduli terhadap realita social yang ada, merupakan sebuah bukti kemeriahan aksi tersebut. 4 buah spanduk ukuran 1m x 5m untuk pembubuhan tanda tangan pun penuh dengan tanda tangan dan pesan-pesan moral untuk perdamaian, moralitas dan solidaritas.
Selain sebagai sebuah aksi solidaritas, aksi tersebut juga merupakan aksi yang kami sebuat dengan aksi moral. Saat ini mahasiswa UIN telah hamper sampai kepada jurang hedonism tingkat tinggi yang tentunya akan merubah citra UIN sebagai kampus Islam. Beberapa bulan yang lalu, sebuah tabloid ibukota menerbitkan sebuah berita yang sangat amat mengganggu telinga kita. Dalam beritanya menybutkan bahwa dilingkungan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta penggunaan obat-obatan terlarang dan juga seks bebas sangat marak terjadi. Oleh karena itu, PMII sebagi sebuah organisasi gerakan menyambut tahun baru 2009 dengan sebuah resolusi jihad besar.
PMII SEBAGI GERAKAN MORAL, MENJADIKAN AGAMA DI HATI SEBAGAI KEKUATAN UNTUK TERUS BISA BERGERAK!

Hello world!

Posted: Januari 1, 2009 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!